Di Balik Keharusan Bertawaf

| Sumber Foto:republika Online 2018

Redaktur : Ani Nursalikah · Reporter :

IHRAM.CO.ID, Oleh: Erdy Nasrul dari Makkah, Arab Saudi

MAKKAH -- Tangisan tak kunjung berhenti. Selalu terdengar meski berusaha ditutupi.

Dalam setiap langkah, ribuan orang mengutarakan permohonan. Dengan sesenggukan mereka mengangkat kedua tangan, bermunajat penuh harapan.

Kaki mereka melangkah pasti mengitari kreasi malaikat dan para nabi, Ka’bah. Inilah gambaran mereka yang melakukan tawaf, ibadah wajib jamaah haji.

Dulu saya bertanya dalam hati, mengapa harus tawaf? Apa manfaatnya? Ya Allah, mungkin ini pertanyaan lancang, tapi sungguh, dengan kemurahan hati, Engkau menjawabnya di sini, di Tanah Suci, tempat hamba pilihan-Mu bersujud, merengek bagai anak kecil, mengharapkan keridhaan-Mu.

Jauh sebelum Nabi Adam dan Hawa hidup, ketika Allah hendak menciptakan manusia, malaikat mempertanyakan, apakah mereka makhluk yang akan menimbulkan kerusakan, menumpahkan darah? Sedangkan kami, kata malaikat, bertasbih terus-menerus. Kemudian Sang Pencipta berfirman, sungguh diri-Nya lebih mengetahui segala hal yang malaikat tidak mengetahui. (al-Baqarah ayat 30).

photo
Jamaah haji beribadah mengelilingi Kabah di Masjid al Haram.

Makhluk dari cahaya itu telah menyinggung Allah. Takut akan murka Ilahi, mereka memohon ampunan dengan memutari Arasy. Hingga detik ini, malaikat terus-menerus mengitari rumah Allah di langit, mengagungkan asma-Nya tiada henti.

Para nabi pun melakukan hal sama di bumi. Setelah terpisah dari Hawa, Nabi Adam menemukan pujaan hatinya di bukit kasih sayang (Jabal Rahmah) sekitar Padang Arafah. Setelah itu, dia bersyukur dengan mengitari Ka’bah.

Nabi Ibrahim dan Ismail, dibantu malaikat, memugar Ka’bah yang sempat hancur. Kemudian berjalan mengelilingi dan menjaganya.

photo
Masjid al Haram tempo dulu.

Pada 630 Masehi, Rasulullah membebaskan Makkah. Ketika memasuki Masjid al-Haram, Sang Nabi memerintahkan Ali bin Abi Thalib dan Bilal bin Rabah menghancurkan berbagai patung sesembahan di sekitarnya. Ini adalah upaya menyucikan rumah Allah (baitullah), menjadikan Yang Mahapengasih satu-satunya sesembahan.

Setelah itu umat Islam menikmati bersujud dan berdoa di sana, mengitari Ka’bah. Mereka menunjukkan lengan kanannya yang kuat sambil berjalan dengan gagah dan cepat, sehingga orang-orang kafir ketika itu segan, menghormati Rasulullah dan para pengikutnya.

Hanya Allah yang disembah di dalam al-Haram. Sungguh tak ada pemilik di dalam rumah Allah, kecuali Sang Pencipta, pemilik hakiki. Laisa fid dar illad dayyar.

Bila diibaratkan Masjid al-Haram, hati ini seperti kondisi zaman jahiliyah, penuh kotoran. Al-Haram dulu dikotori patung berhala sumber kemusyrikan. Sedangkan hati ini dinodai berhala hati: harta, kedudukan, tamak, dan berbagai sikap tercela, yang mengarah pada menyekutukan Allah.

Kalbu harus dibersihkan dan disucikan. Caranya dengan tawaf, mengelilingi Ka’bah, sambil mengakui dan menyesali dosa, seperti yang dilakukan malaikat dan para nabi. Putaran satu dan lainnya akan melenyapkan noda tadi. Kemudian memberikan tempat untuk hidayah.

photo
Jamaah umrah berswafoto dengan latar Kabah di Masjid al Haram.

Setelah bersih dan suci, hati hanya menjadi tempat cahaya Ilahi. Nama Allah akan selalu terlintas di dalam pikiran, membuat diri melangkah kepada kebaikan. Sang pencipta melindungi hamba tersebut dari kemungkaran. Tutur katanya menenangkan hati. Perangainya mengagumkan orang-orang sekitar, meneduhkan hati yang gersang, dan menghadirkan perubahan dalam kehidupan.

Kini, 221 ribu jamaah haji Indonesia dan jutaan Muslim lainnya dari berbagai negara mendatangi al-Haram. Mereka melestarikan sunnah para malaikat, nabi, dan orang-orang shaleh, mengitari Ka’bah, baitul atiq (rumah kuno).

Tanpa disadari, kehidupan yang mereka jalani selama ini telah menumbuhkan berhala modern di hati. Mengakibatkan mereka mendewakan hal duniawi.

Allah kemudian memanggil mereka untuk bertamu ke al-Haram. Di sana mereka bertawaf dengan penuh penyesalan sambil mengungkapkan harapan yang hendak dicapai.

Tak peduli panas yang terik, tenggorokan yang kering, dan tubuh yang sakit. Mereka terus berjalan masuk ke dalam barisan muthawif sambil mengumandangkan kebesaran Allah. Bismillahi Allahu akbar.

Bagikan Berita Ini