Cerita Menjalankan Protokol Kesehatan Umroh Saat Pandemi

Cerita Menjalankan Protokol Kesehatan Umroh Saat Pandemi

IHRAM.CO.ID, JAKARTA–Jamaah umroh kelompok terbang (kloter) pertama keberangkatan tanggal 1 November dan kloter kedua keberangkatan 3 November masih berada di Tanah Suci. Jamaah umroh masing-masing diberikan waktu 10 hari di Tanah Suci sejak keberangkatan.

Namun antara kloter pertama dan kedua itu berbeda perlakuan untuk masalah kewajiban mematuhi protokol kesehatan. Perbedan perlakuan itu disampaikan Pemilik Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umroh (PPIU) Taqwa Tours Rafiq Jauhari, saat berbincang dengan Republika, semalam.

Rafiq mengatakan, sampai saat ini protokol kesehatan di Arab Saudi terkait penyelenggaraan umroh masih belum jelas.

“Bahkan antara kloter pertama yang berangkat pada 1 November dengan kloter kedua yang berangkat 3 November ada perbedaan,” katanya menyampaikan hasil pengamatannya pada penerbangan jamaah umroh pertama di fase ketiga pembukaan umroh.

Rafiq yang juga konsultan ibadah haji umrah ini mengungkapkan, selain ada perbedaan dalam hal mematuhi protokol kesehatan di pesawat perbedaan ini juga kembali terjadi saat tiba di Tanah Suci Makkah terkait kepatuhan pada masa karantina. Ia mencontohkan, selah tiba di Makkah, protokol yang berkaitan dengan karantina pun ada kesimpang-siuran.

“Awalnya pihak Muassasah mengabarkan bahwa jamaah masih diperbolehkan keluar kamar asalkan masih berada di dalam bangunan hotel, namun pada kenyataannya jamaah dilarang keluar kamar kecuali untuk hal yang darurat,” ujarnya.

Rafiq yang juga lulusan Ma’had Harom Al-Makki, Makkah Al-Mukarromah ini menuturkan, sebelumnya jamaah diberi tahu bahwa mereka akan dikarantina selama tiga hari sebelum menjalankan umroh, namun ternyata selain dikarantina juga dilakukan swab test.

Swab test hingga saat ini dilakukan tiga kali. Pertama sebelum terbang, kedua sebelum umroh, ketiga setelah umroh.

“Kami berhusnudzan swab test ini dilakukan untuk keperluan riset,” katanya.

Kementerian Haji dan Kementerian Kesehatan Arab Saudi memerlukan data yang akurat berkaitan dengan resiko penularan Covid-19 di kalangan jamaah umroh yang menjalankan ibadah umroh di tengah pandemi.

Dari hasil analisis data dan informasi, Rafiq Jauhari menyampaikan hipotesa sebagai berikut:

Pertama dari 360 jamaah yang mendaftar umroh di kloter pertama, 22 orang di antaranya dinyatakan positif covid-19. Artinya ada resiko penularan sebelum keberangkatan sebesar kurang lebih 6 persen.

Kedua, dua hari setelah mendarat di Arab Saudi (sebelum umroh) dilakukan test ulang, dan ditemukan tiga orang dari 224 jamaah yang dinyatakan positif covid-19. Artinya ada resiko penularan sebesar kurang 1 persen dalam penerbangan

Ketiga, kemudian hari ini (dua hari pasca umroh) jamaah kembali dilakukan swab test dan belum diketahui hasilnya. Kemungkinan tujuannya untuk mengetahui resiko penularan di tengah pelaksanaan umroh.

“Arab Saudi tidak ingin pelaksanaan umroh justru menjadi epicentrum penyebaran covid-19,” katanya.

Share this post