Hati-hati Aksi Tipu di Tanah Suci

Hati-hati Aksi Tipu di Tanah Suci

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA — Banyak cara ditempuh orang untuk melakukan penipuan. Tak terkecuali, di Tanah Suci saat banyak jamaah calon haji dari berbagai penjuru dunia, berkumpul untuk melaksanakan ibadah haji.

Salah satu modus yang dilakukan adalah dengan berpura-pura menjadi jamaah haji korban pencopetan, yang kemudian memelas meminta bantuan orang lain. Modus penipuan itu, biasanya mulai marak di Kota Makkah, ketika kota itu pulai padat. Pelaku biasanya mengaku datang dari India atau Pakistan.

Ketika jamaah sedang istirahat atau duduk-duduk menikmati senja di pelataran Masjidil Haram, tiba-tiba akan datang sepasang pria muda dan wanita separuh baya menghampiri dengan wajah yang sangat memelas. Dan biasanya, yang menjadi sasaran mereka adalah jamaah asal Indonesia, karena dikenal tidak tegaan.

Si pria yang bertampang India dan mengenakan baju ihram itu bertanya, ”Apakah bisa berbahasa Inggris?” Bila jamaah yang ditanya mengangguk, maka si pria bertampang India itu pun tersenyum senang, dan mulai bercerita.

”Saudaraku, saya dan isteri saya ini baru saja kecurian. Kami datang dari Pakistan, saat ini kami tidak punya uang. Perut kami lapar. Saudaraku bisakan kau membantu kami, bukankah sesama umat Islam kita bersaudara,” kata si pria. Sedangkan yang perempuan biasanya hanya menunduk atau tengak-tengok ke sana-sini.

Jamaah haji asal Indonesia yang menghadapi orang seperti ini, biasanya menjadi tidak tega. Apalagi, kebanyakan jamaah tak ingin ibadah hajinya ternoda oleh prasangka buruk.

Biasanya, pria yang mengaku dari Pakistan ini, akan meminta derma beberapa puluh riyal. Namun bila diberi 10 riyal saja, maka pasangan pria wanita itu akan langsung ngeloyor pergi sambil tersenyum puas.

Tapi jangan kaget, bila beberapa menit kemudian akan didatangi lagi pasangan asing yang juga bertampang India atau Pakistan. Bisa saja, yang wanitanya saat itu diakui sebagai ibu si pria karena usianya lebih tua. Dan Lucunya, apa yang diucapkan pasangan ini, sama dengan pasangan sebelumnya. Keduanya juga membawa tas yang tampak habis disilet, kemudian mengaku habis kecurian.

Kalau kali ini anda menolak memberi derma, maka jangan kaget kalau kemudian mereka mengumpat dan mengomel tidak karuan. ”Sesama umat Muslim itu bersaudara. Anda berdua ini saudara macam apa?” Begitu kata si pria dalam bahasa Inggris.

Usut punya usut, praktik penipuan semacam itu memang sering terjadi setiap musim haji. Menurut Abdul Adjis, seorang tenaga musiman (Temus), banyak cara yang digunakan para pelaku untuk menarik iba para jamaah haji. ”Jamaah haji Indonesia memang kerap menjadi sasaran karena dikenal mudah menaruh rasa iba,” katanya.

Maraknya aksi tipu-tipu ini, juga terjadi di Madinah. Mereka umumnya, melakukan aksi penipuan dengan berpura-pura menjadi pengemis di lingkungan Masjid Nabawi.

Terhadap orang-orang yang terlihat seperti pengemis itu, para askar (polisi Arab Saudi) sebenarnya sudah berusaha mengusir orang-orang tersebut dari lingkungan Masjid Nabawi. Namun selalu saja sulit untuk dihilangkan. Karena itu jangan heran, bila pandangan pengemis ini terlihat gelisah karena khawatir ada askar yang memergoki mereka.

Biasanya, yang menjadi sasaran mereka adalah jamaah yang berwajah Asia Tenggara, seperti Malaysia, Thailand atau Indonesia, yang sedang berjalan sendirian atau duduk sendiri. Bahkan tidak jarang, di tengah-tengah padatnya jamaah bubaran dari masjid, sang pengemis menyeruak di tengah kepadatan dan merapat ke tubuh jamaah Melayu.

Pelaku biasanya mengaku berasal dari India atau Pakistan. Ada pula yang mengaku mahasiswa asal Khasmir. Modusnya juga dengan mengaku telah kehilangan uang, dan meminta bantuan.

 

*Artikel ini telah dimuat di Harian Republika, Minggu, 17 Desember 2006

Share this post