Tak Ada Masjid, Ruko pun Jadi

Tak Ada Masjid, Ruko pun Jadi

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA — Syekh Muhammad Al-Aboudy, asisten sekretaris jenderal Liga Muslim se-Dunia kala itu, mempunyai berita baik dan kurang baik dari Kuba, negara yang baru dikunjunginya belum lama ini. ”Masjid boleh berdiri, asal persentase Muslim bisa diperhitungkan seperti Katolik atau Protestan,” ujarnya mengutip pernyataan otoritas pemerintahan Kuba. Itu berita kurang baiknya.

Berita baiknya: pemerintah memberi restu pendirian Organisasi Muslim Kuba, sebagai payung persaudaraan Muslim di negeri cerutu itu. Muslim, kendati jumlahnya kurang dari 5 persen dari seluruh populasi, membutuhkan wadah untuk berkiprah. Kedatangan Al-Aboundy dan rombongan ke negara itu merupakan kunjungan persahabatan ke beberapa lembaga pemerintahan. Tujuannya, selain memberi dukungan bagi syiar Islam di Kuba, mereka membuka jalan bagi kerja sama budaya antara Kuba dan negara-negara Islam.

Masjid memang menjadi hal yang “mahal” bagi Muslim Kuba, khususnya Havana. Selama ini, mereka melakukan aktivitas keagamaan di rumah-rumah warga Muslim dan rumah usaha (ruko) yang sebagian ruangannya difungsikan sebagai mushala. Shalat dan khotbah Jumat juga dilakukan di tempat ini, atau yang oleh Muslim setempat disebut sebagai “Rumah Arab”. Di sebut demikian, karena “masjid” itu biasanya berlokasi di kawasan-kawasan tempat para imigran asal Arab tinggal. Kebanyakan jamaahnya juga Muslim keturunan Arab.

Beberapa “Rumah Arab” bagian dalamnya sudah ditata seperti layaknya masjid. Pemerintah Qatar menyumbang 40 ribu dolar AS untuk membenahinya. Sebetulnya, melihat membludaknya jamaah saat shalat Jumat, pembangunan masjid mutlak dilakukan. Itu pula yang dicoba disampaikan oleh rombongan dari Liga Muslim se-Dunia. Namun, begitulah jawaban pemerintah Kuba, kendati Liga sudah menyanggupi akan mengongkosi seluruh pembangunan masjid.

Muslim di Kuba berkembang cukup pesat. Di Pilaya de Rosario, misalnya, 40 persen populasinya adalah Muslim. Tiap Jumat mereka melaksanakan shalat Jumat di sebuah rumah yang dihibahkan seorang Muslimah Kuba dan disulap menjadi masjid. Islam hadir di Kuba pada akhir tahun 1400-an, saat kejayaan Islam di Andalusia (Spanyol). Penganutnya umumnya adalah pendatang Arab yang berdagang dan akhirnya bermukim di sana.

Sebetulnya, tidak semua keturunan Arab di Kuba adalah Muslim. Kebanyakan bangsa Arab yang masuk ke Kuba beberapa abad setelahnya justru beragama Kristen. Sebelum revolusi pecah dan kaum komunis menguasai negeri, gereja dan masjid berdiri berdampingan. Namun setelah rezim komunis bercokol, masjid tak lagi “bernyawa”. Di “Rumah Arab” itulah kegiatan keagamaan kini berlangsung. Termasuk prosesi syahadat jika ada warga Kuba yang menjadi mualaf.

Jumlah penduduk asli Kuba yang berpindah menganut Islam jumlahnya memang terus bertambah. Yahya Pedron, lelaki 38 tahun yang penduduk asli Kuba, mengaku tertarik pada Islam setelah membaca Alquran yang ditemukannya di jalan. Lelaki kelahiran Pinar del Rio ini bersyahadat saat usianya 20 tahun. ”Islam menjawab semua dahaga rohani saya,” ujar pria yang bekerja di pusat listrik negara ini. Ia dan keluarganya rajin mengikuti pertemuan yang digelar organisasi Muslim setempat. Menurutnya, di Havana setidaknya terdapat 100 orang pribumi yang Muslim.

Alasan mereka masuk Islam memang beragam. Lelaki yang lebih senang disebut Hasan menuturkan, ia berislam setelah membaca otobiografi Malcolm X, tokoh Muslim Amerika Serikat. ”Saya melihat betapa korup hidupnya, sebelum akhirnya mengenal Islam yang mengubah kehidupan dia selanjutnya. Benar kata dia, dalam Islam, di depan Tuhan, budak dan raja adalah setara.”

Mualaf lainnya, Ibrahim, mengaku terkesan dengan teman Muslimnya. Dia melihat sang teman selalu tenteram dan damai hidupnya, kendati bukan seorang berkecukupan. ”Damai dalam Islam yang dirasakannya kini saya rasakan juga,” ujar pria yang sudah tiga tahun menanggalkan nama Spanyolnya itu. Di luar aktivitas masjid, kelompok kecil Muslim Havana bahu-membahu mengumpulkan zakat untuk membantu mereka yang membutuhkan, tanpa memandang agama. ”Dulu saya pemabuk, tidak jujur dalam usaha. Kini saya menjadi lebih baik dan lebih toleran,” tambah Ibrahim.

Share this post